Berbudaya Itu Berhikmat dan Tidak Membinasakan (Rut 4:1-6)

“…baik juga hal itu kusampaikan kepadamu” (ayat 4)

Sangat banyak praktek budaya di kehidupan ini.  Salah satunya adalah budaya “levirate marriage” dari masyarakat Yahudi.  Praktek ini bisa dilihat di Kitab Ulangan 25:5-10 dan Kejadian 38:8.  Solomon Schechter dan Joseph Jacobs berkata bahwa Rut 4:1-12 tidak persis tentang pernikahan levirat sebab alasannya Schechter dan Jacobs, Rut bukan orang Yahudi.  Roi Nu pun sepakat bahwa praktek pernikahan di perikop ini berbeda dengan pernikahan levirat (2015) sebab, alasannya Nu, posisi Boas adalah penebus (go’el; redeemer) bukan yibburn (brother-in-law) dari suaminya Rut.  Boas adalah hanya seorang pengganti (ay. 1, 8 dan 9).

Dua hal penting disingkapkan di perikop ini.  Pertama, hikmat tidak bisa dipisahkan dari praktek budaya.  Boas sebagai orang yang punya kuasa dan kekayaan menunjukkan bagaimana berbudaya itu adalah berhikmat.  Tanpa adanya hikmat, maka kuasa dan kekayaan akan membuat praktek budaya menjadi sumber petaka.  Kedua, peran Boas sebagai penebus (go’el; redeemer) bagi Rut menegaskan kehadiran Tuhan di dalam dirinya.  Ini berarti kehadiran Tuhan di orang berhikmat seperti Boas menghasilkan pribadi yang kebaikannya tidak musiman.

Baik etnis grup, keluarga ataupun jemaat memiliki budayanya masing-masing, dan karena itu menjalankan praktek budaya yag ada perlu disertai hikmat.  Itu berarti kita menyaksikan Tuhan hadir di dalam praktek budaya yang ada di etnis grup, keluarga dan jemaat di mana kita berada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *