Tiang Awan dan Tiang Api

(Keluaran 13:21-22)

“Tuhan berjalan di depan mereka pada siang hari dalam tiang awan…, dan pada waktu malam dalam tiang api…” (ayat 21)

Tuhan berkenan menampakkan kehadiran-Nya dalam wujud ‘tiang awan’ dan ‘tiang api’, supaya umat-Nya dapat mengatasi berbagai rintangan dalam perjalanan.  Musa pun melihat kehadiran-Nya itu dalam wujud semak belukar yang menyala, tetapi tidak dimakan api (Kel.3:2).  Ketika Musa mendekatinya, TUHAN berseru dari tengah semak itu dan memperkenalkan diri-Nya (Kel.3:4-6).  Dinyatakan pula bahwa Musa ‘menutup mukanya’ sebab ia takut memandang Allah (Kel.3:6b).  Benarkah Musa melihat muka TUHAN  yang berbicara langsung kepadanya? (lih. Kel. 19:3, 20; 20:21).  Bahkan TUHAN telah berbicara ‘berhadapan muka’ dengan Umat-Nya di gunung dan di tengah-tengah api, tetapi umat takut kepada api itu (Ul.5:4-5b).  Ada nas yang menyatakan bahwa TUHAN ‘berbicara dengan Musa dengan berhadapan muka’ (Kel. 33:11).  Itu berarti bahwa hanya Musa yang ‘berhadapan muka’.  Tetapi TUHAN pernah mengatakan kepada Musa: ‘Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup’ (Kel. 32:20).  Oleh sebab itu TUHAN menempatkannya di lekuk gunung dan menudungi-Nya dengan tangan-Nya sendiri, supaya kalau kemuliaan TUHAN lewat, ia hanya melihat belakang-Nya dan bukan wajah-Nya (Kel. 33:21-23).  Terlihat ada perbedaan rekaman dalam naskah.

Musa pernah berada bersama TUHAN ‘selama empat puluh hari dan empat puluh malam’ ketika ia menuliskan Kesepuluh Firman pada kedua loh batu (Kel. 34:4, 28).  Memang, yang penting adalah mendengar suara-Nya yang berfirman dan mengalami penyertaan-Nya seperti kehadiran-Nya ‘dalam tiang awan dan tiang api’ (ay.21-22).

Bagaimana umat-Nya masa kini bersikap pada zaman teknologi canggih dalam menghadapi tantangan dan tuntutan dunia terbuka?  Apa ada kesiapan untuk ‘mengosongkan diri’ seperti Tuhan Yesus memenuhi panggilan dan pengutusan-Nya di tengah kenyataan dunia pada waktu itu (Fil. 2:5-8)?  Itulah citra dan ciri khas ‘ekklesia’, Gereja sepanjang masa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *