Senin, 18 Desember 2017 – Renungan Pagi

“RUKUN KEMBALI”

…Efraim tidak akan cemburu lagi kepada Yehuda, dan Yehuda tidak akan menyesakkan Efraim lagi (ay.13)

Yesaya 11 : 11-14
MINGGU ADVEN III
SENIN, 18 DESEMBER 2017
RENUNGAN PAGI
KJ.249 : 1-Berdoa

Pengalaman pahit bangsa pilihan Tuhan tidak hanya karena ditindas bangsa Iain, tetapi juga dengan adanya persoalan di antara mereka sendiri. Ternyata Efraim memiliki dan menyimpan rasa cemburu kepada Yehuda dan Yehuda menyesak Efraim. Dua keluarga yang bersaudara tidak hidup rukun. Mereka saling menyakiti. Ditindas oleh bangsa lain, serta saling menyesakkan satu sama lain. Penderitaan makin berlipat ganda. Kepada mereka Yesaya menyerukan bahwa Allah Raja Damai yang akan datang tidak membiarkan mereka terus hidup menderita. Tuhan datang memulihkan dan mengumpulkan mereka kembali. Penderitaan akibat kecemburuan Efraim kepada Yehuda dan sikap Yehuda yang membuat sesak hati Efraim akan diselesaikan Tuhan. Dua bersaudara yakni Efraim dan Yehuda akan rukun kembali. Mereka dikumpulkan Allah dan hidup bersama.

Timbulnya rasa cemburu dapat disebabkan berbagai hal. Dan bagaimana punjuga kecemburuan mengakibatkan penderitaan. Dapat juga berdampak menjadi perselisihan yang serius. Saling menghina, memfitnah dan bisa juga berujung ke pembunuhan apabila tidak segera diselesaikan. Yang bersaudara terpecah, hubungan sesama retak, dengan rekan sekerja berseberangan terus, persekutuan jemaat berantakan jika rasa cemburu tidak dijauhkan (Kej. 37). Jika kita menyimpan rasa cemburu, kita sedang tertawan dan terbelenggu.

Tuhan Yesus adalah Raja Damai. la datang untuk membebaskan dan menyelamatkan kita dari kuasa yang membelenggu dan menawan hidup kita. Tuhan Yesus adalah Raja Damai. Ini adalah berita damai, kabar baik dan berita selamat bagi semua orang yang selama ini berada dalam kecemburuan yang mengakibatkan hidup tidak rukun. Sambutlah Tuhan Yesus dengan hati bersih. Dia datang untuk memberikan damai di bumi, damai dalam hati kita. Hiduplah rukun dengan siapapun.

KJ.249 : 3
Doa : (Tuhan tolonglah kami, jangan biarkan kami ditawan kuasa kecemburuan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *