Minggu, 27 Agustus 2017 – Renungan Malam

“CERMIN TAK PERNAH BOHONG”

….mereka sendiri akan merasa mual melihat kejahatan yang mereka lakukan dan melihat segala perbuatan mereka yang keji. (ay. 9b)

Yehezkiel 6 : 8-10
HARI MINGGU XII SES. PENTAKOSTA
MINGGU, 27 AGUSTUS 2017
RENUNGAN MALAM
GB.256 : 1-Berdoa

Apabila mata diselaputi katarak, maka seseorang tidak akan bisa melihat dengan baik keadaan dirinya di cermin. Hanya ketika selaput itu dikupas, maka terkelupaslah juga bayangan semu orang tersebut tentang dirinya sendiri yang bisa jadi telah menyesatkan akal sehatnya selama lni. Mana ada cermin yang bohong? Putih tidak mungkin cokelat, keriting tidak mungkin lurus, jerawat tidak mungkin tahi lalat. la merefleksikan materi dalam bentuk apapun di depannya tanpa dikurangi atau dilebihkan. Cermin sangatlah jujur dibanding kawan atau suami/istri yang tidak akan mampu menyampaikan secara akurat detail atau gambaran wajah orang dihadapannya. Intinya, hanya ketika selaput katarak ltu dikupas, maka cermin akan mengatakan kenyataan yang sebenarnya.

Alih-alih taat dan setia pada Tuhan, bahkan diingatkan dan ditegur oleh Nabipun tidak mempan. Mata rohani Israel diliputi “katarak”. Ego, ketidak-puasan diri, penyembahan berhala adalah katarak yang menutupi dan membutakan Israel. Mereka tidak bisa lagi melihat jati dirinya sebagai umat pilihan Allah.

Hukuman, masa sulit, ditawan, masa kelu dan derita adalah proses yang Tuhan pakai untuk mengelupasi “katarak dosa”. Jalan derita dan gumul tersebut menjadi alat refleksi, sehingga mereka bisa melihat dengan jelas dan menyadari hakekat keadaan dirinya sendiri dihadapan Tuhan. Demi kebahagiaan semu, mereka memilih berhala dan dewa-dewi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan Allah dan mengakuinya sebagai kuasa yang menyelamatkan hidup mereka. Mereka menciptakan materi dalam wujud berhala dan ilusi atas iman kepada dewa-dewi sebagai alat pemuasan nafsu diri (band Yeh.2:3).

Israel diajari Tuhan untuk menerima hukuman pembuangan sebagai jalan pertobatan, tetapi Gereja di masa kini tidak boleh terjebak pada pemahaman bahwa masa sulitdan derita adalah hukuman, melainkan masa sulit seharusnya menjadi alat refleksi untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan menelanjangi diri bahwa tidak ada satupun materi (uang, pekerjaan, barang sebagai berhala baru) yang mendatangkan kebahagiaan sejati. Dimana hartamu disitulah juga hatimu berada.

GB.256 : 3
Doa : (Ya Tuhan, ajarlah aku untuk tetap setia kepada-Mu sekalibun penderitaan kualami dalam kehidupan ini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *