Minggu, 11 Juni 2017 – Renungan Pagi
HARI MINGGU TRINITAS
MINGGU, 11 JUNI 2017
Renungan Pagi
Efesus 2 : 11 – 18
KJ. 249 : 1-Berdoa

“BERJAGA DAN WASPADA”

Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak…(ay.14)

Dalam salah satu tulisan Purnawan Kristanto “Tuhan Tidak Tidur” menceritakan bagaimana kebersamaan dan gotong-royong masih ada dalam kebudayaan masyarakat Indonesia. la bercerita bahwa beberapa jam berselang setelah gempa bumi melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah, banyak orang menghubungi gereja mereka untuk menawarkan bantuan. Para perempuan menyiapkan nasi bungkus, kaum laki-laki menyiapkan tenda dan Iampu minyak. Demikian juga di hari-hari berikutnya banyak relawan bergabung dari berbagai kalangan untuk membantu sesama yang sedang tertimpa musibah. Gempa bumi telah meruntuhkan berbagai sekat yang memisahkan antar warga baik agama,suku, status dalam masyarakat, dan sebagainya. Ternyata rasa perikemanusiaan dapat menjadi “pemersatu” di antara kepelbagaian.

Dalam tulisannya kepada Jemaat di Efesus, Paulus mengungkapkan bahwa Yesus melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib telah membuka jalan masuk kepada keselamatan dan telah “merubuhkan tembok pemisah” antara Yahudi dan non Yahudi, dan membuat setiap yang percaya kepada Yesus Kristus menjadi satu keluarga besar dan menerimajalan masuk kepada kehidupan yang kekal. Saudaraku, mari merenung sejenak melalui pertanyaan ini :

“Adakah tembok-tembok” baru yang dibangun dan diciptakan dalam persekutuan? Tembok gelar pendidikan?tembok kaya-miskin?, “tembok aktifis gereja/jemaat biasa” atau “tembok-tembok” lain yang dapat membuat umat Tuhan tidak bersatu. Tuhan Yesus telah merobohkan tembok pemisah karena perseteruan oleh salib-Nya. Melalui perenungan pada hari ini, kita hendak diingatkan beberapa hal, yaitu :

1. Tuhan Yesus dengan karya-Nya di atas kayu salib telah membuka jalan baru bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya untuk memperoleh keselamatan.
2. Setiap orang percaya adalah anggota keluarga Allah. Oleh karena itu, setiap anak Tuhan harus melihat saudara sepersekutuannya sebagai anggota keluarganya dan mempraktekkan kasih persaudaraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *